SWASEMBADA

 

Swasembada Pangan Sebagai Ketahanan Nasional

Wajah pertanian Indonesia yang kian carut marut seharusnya menyesakkan pikiran dan sanubari mereka yang bertanggung-jawab atasnya. Apabila pertanian tidak kunjung berkembang bahkan menurun kapasitasnya, hal terburuk yang mungkin terjadi seharusnya menjadi perhatian serius bagi semua saja saat ini.

Keinginan negara ini menjadi sebuah negara maju, membuat sektor pertanian seolah-olah menjadi perhatian kesekian dalam perumusan kebijakan. Peruntukan lahan di Indonesia saat ini kebanyakan beralih untuk hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan sektor pertanian khusunya subsektor pangan. Lahan-lahan pertanian di Jawa sebagian besar telah berubah menjadi kawasan industri. Di daerah lainnya seperti di Sumatera, peruntukan lahan lebih didominasi oleh perkebunan untuk kebutuhan industri, juga untuk pertambangan yang malah menghancurkan kesuburan tanah pertanian itu. Tidakkah pernah terpikir bila suatu saat nanti lahan pertanian pangan tidak ada lagi? Jika sampai terjadi, bagaimana kebutuhan pangan dapat terpenuhi?

Suatu hal yang klise ketika pada saat pendidikan sekolah dasar, setiap siswa diajarkan bahwa perlu untuk memenuhi terlebih dahulu kebutuhan primer, yang salah satunya adalah pangan. Akan tetapi, para pengambil kebijakan kemudian seperti tidak paham atau tidak mau tahu akan hal itu. Sedangkan Indonesia belum memenuhi kebutuhan pangannya, lahan untuk pertanian sudah berubah menjadi kawasan industri, untuk pabrik-pabrik yang menjamur di lahan yang dulunya merupakan lahan pertanian.

Para petani yang dulunya berkecimpung dalam pertanian subsektor pangan sebagian besar sepertinya sudah kehilangan hasrat untuk menanam komoditi pangan seperti padi. Mereka terimbas industrialisasi yang melanda Indonesia di mana sebagian besar lahan pertanian telah digunakan untuk industri (Soetrisno, 2002). Kebanyakan juga lebih memilih untuk menggeluti sektor pertanian subsektor non-pangan dengan alasan lebih menguntungkan. Alih fungsi lahan sawah menjadi perkebunan kelapa sawit bahkan menjadi tren di beberapa wilayah di Sumatera (Kompas, 28 Juli 2010).

Pentingnya keterpenuhan kebutuhan primer merupakan suatu keniscayaan bagi negara yang benar-benar ingin memajukan kesejahteraan rakyat dengan sebenar-benarnya. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya apabila hal-hal pokok saja tidak dapat dipenuhi, sedangkan hanya bisa berharap kepada negara lain. Celakalah negara itu! Ketergantungan Indonesia pada impor pangan khususnya beras sudah menunjukkan ketidakmampuan negara ini untuk berdaulat bahkan sekadar atas kebutuhan primer sendiri. Sebagai turunannya, maka bukan tidak mungkin bangsa ini akan terjajah kembali untuk aspek-aspek lainnya.

Indonesia sebagai sebuah negara berkembang yang ingin menyejahterakan kehidupan rakyatnya harus bisa menyeimbangkan pembangunannya di setiap sektor. Indonesia perlu membuat pengaturan yang menyeluruh tentang ketersediaan pangan untuk keberlangsungannya. Pengaturan yang dimaksud tidak sekedar membuat Undang-undang Pangan ataupun pembentukan Dewan Ketahanan Pangan dengan berbagai rancangan kebijakannya. Bagaimanapun para petani seperti halnya manusia lain ingin memenuhi kebutuhannya dan ingin meningkatkan taraf hidup masing-masing. Melihat peluang yang diberikan sektor perkebunan yang menggiurkan, tentu saja mereka mengubah haluan tanpa berpikir lebih panjang lagi.

Pengaturan mengenai subsektor pangan Indonesia belum dapat dikatakan mampu menyentuh seluruh aspek permasalahan di dalamnya. Penyelenggaraan, pengaturan dan atau pengoordinasian terwujudnya cadangan pangan dan kegiatan dalam rangka penyediaan, pengadaan dan atau penyaluran pangan tertentu yang bersifat pokok sebagaimana diatur dalam Pasal 46 UU Nomor 7 Tahun 1996 harus dilakukan secara berkesinambungan dan konsisten. Kecenderungan untuk beranggapan bahwa swasembada pangan telah tercapai karena telah dapat mengekspor beras adalah klaim yang kekanak-kanakan.

Pertanyaannya, apakah kelebihan beras yang diekspor itu akan selalu terjadi untuk tahun-tahun berikutnya. Padahal, di saat yang bersamaan juga banyak petani padi yang mengalihfungsikan sawahnya, yang seharusnya menjadi salah satu pemasok padi untuk daerahnya, menjadi perkebunan kelapa sawit. Sementara, di Merauke, misalnya, pengembangan pertanian subsektor pangan baru saja akan dimulai. Akan tetapi, konon proyek ini akan lebih banyak didominasi oleh perusahaan yang sejak awal akan menjadikannya sebagai industri baru dengan terlebih dahulu menggunduli hutan demi tersedianya lahan.

Permasalahan lain yang tidak kalah penting adalah keberadaan petani gurem. Pemahaman sosiologi Barat mengenal konsep peasant atau subsistent farmer, yaitu petani yang memiliki lahan sempit dan hasilnya bagi mereka sendiri; dan farmer, yaitu petani yang hidup dari pertanian dan menggunakan sebahagian hasil pertanian untuk dijual (Loekman Soetrisno, 2002). Meskipun dalam kosa kata Indonesia hanya dikenal kata “petani,” pemahaman mengenai peasant atau subsistent farmer ini setidaknya dapat dipadankan dengan konsep petani gurem.

Petani gurem ini tidak dapat diremehkan oleh pemerintah Indonesia. Jika sebagian besar penduduk Indonesia masih bisa memenuhi kebutuhannya sendiri dan tidak tergiur untuk mengalihfungsikan lahannya untuk peruntukan lain, hal ini tentu dapat menjadi pondasi bagi ketahanan pangan Indonesia. Dewan Ketahanan Pangan yang berlandaskan PP Nomor 83 Tahun 2006 perlu memperhatikan keberadaan para petani gurem ini dalam menentukan kebikajakan pangan Indonesia.

Akhirnya, tercapainya ketahanan pangan nasional akan menunjukkan sejauh mana Indonesia berdaulat di negerinya sendiri. Bagaimanapun sebuah rumah tangga yang hanya tahu meminjam dari tetangganya akan hancur. Pemerintah seharusnya menyelenggarakan sistem yang kondusif bagi para petani (gurem) Indonesia, alih-alih membuat kebijakan yang tidak rasional dan kekanak-kanakan.

Ber­ta­ni me­nu­ju swa­sem­ba­da pa­ngan

Be­be­ra­pa ha­ri ter­akhir ini ma­sya­ra­kat ter­be­ba­ni oleh har­ga-har­ga ke­bu­tuh­an po­kok yang na­ik se­ca­ra dras­tis.

Har­ga ke­bu­tuh­an po­kok yang meng­alami ke­na­ik­an ter­se­but di an­ta­ra­nya ada­lah be­ras yang men­ca­pai har­ga Rp 7000/kg, ca­bai yang men­ca­pai Rp 60.000 / Kg. Se­dang­kan gu­la me­mang ti­dak meng­alami ke­na­ik­an ka­re­na har­ga­nya me­mang su­dah cu­kup ting­gi ya­i­tu Rp 10.000/kg.

Ke­na­ik­an ber­ba­gai har­ga ke­bu­tuh­an po­kok ter­se­but se­ma­kin me­nam­bah be­ban hi­dup ma­sya­ra­kat ki­ta da­lam upa­ya me­me­nuhi ke­bu­tuh­an hi­dup yang me­mang te­ra­sa su­lit akhir-akhir ini. Dan yang cu­kup me­ra­sakan dam­pak ke­na­ik­an har­ga-har­ga ter­se­but pas­ti ma­sya­ra­kat me­ne­ngah ke ba­wah. Hal ini da­pat ber­aki­bat ter­ja­di­nya frus­ta­si so­si­al da­lam ma­sya­ra­kat ki­ta.

Pe­me­rin­tah se­ba­gai pi­hak yang tu­rut ber­tang­gug­ja­wab da­lam me­ngon­trol har­ga ke­bu­tuh­an po­kok se­la­lu ber­alas­an ke­na­ik­an har­ga ter­se­but di­se­bab­kan oleh ga­gal pa­nen aki­bat cua­ca eks­trem. Khu­sus ko­mo­di­tas ca­bai, pe­me­rin­tah me­nga­ta­kan ke­na­ik­an har­ga aki­bat ber­ku­rang­nya pa­so­kan ca­bai da­ri Dae­rah Is­ti­me­wa Yog­ya­kar­ta (DIY) aki­bat erup­si Me­ra­pi.

Hal ini mem­buk­ti­kan bah­wa sen­tra pro­duk­si ca­bai ki­ta ma­sih sa­ngat ter­ba­tas. Ke­ti­ka sua­tu dae­rah sen­tra ter­ke­na ben­ca­na atau ga­gal pa­nen ma­ka oto­ma­tis ke­bu­tuh­an pa­ngan ki­ta ter­gang­gu yang ber­aki­bat har­ga me­lon­jak.

Gu­na meng­atasi ke­na­ik­an har­ga pe­me­rin­tah me­nam­bah stok be­ras na­sio­nal de­ngan ca­ra yang nor­ma­tif dan ter­ke­san ber­jang­ka pen­dek ya­i­tu de­ngan meng­im­por 250.000 ton be­ras da­ri Viet­nam. Iro­nis me­mang, In­do­ne­sia yang di­ke­nal se­ba­gai ne­ga­ra ag­ra­ris ki­ni tak mam­pu men­cu­kupi ke­bu­tuh­an pa­ngan­nya sen­di­ri. Be­ras dan ca­bai se­ha­rus­nya me­ru­pa­kan ko­mo­di­tas yang me­lim­pah ru­ah di ne­ge­ri ini.

Ma­hal­nya har­ga tak le­pas da­ri ke­ter­ba­tas­an stok dan per­ma­in­an har­ga oleh pa­ra pe­da­gang be­sar. Pe­ta­ni ki­ta be­lum men­ja­di tu­an di ne­ge­ri­nya sen­di­ri. Pe­ta­ni ki­ta sam­pai sa­aat ini ha­nya meng­ha­sil­kan pro­duk tan­pa mam­pu me­ma­in­kan har­ga. Apa­la­gi de­ngan pro­duk­ti­vi­tas yang se­ma­kin me­nu­run je­las me­nye­bab­kan per­ta­ni­an ki­ta se­ma­kin ter­pu­ruk.

Ke­na­pa pro­duk­ti­vi­tas be­ras dan pro­duk per­ta­ni­an ki­ta sa­at ini ti­dak mam­pu men­cu­kupi ke­bu­tuh­an pa­ngan na­sio­nal? Apa­kah fak­tor cua­ca yang akan se­la­lu men­ja­di kam­bing hi­tam? Tam­pak­nya pe­me­rin­tah ha­rus men­ca­ri kon­sep lain da­lam mem­ba­ngun per­ta­ni­an ki­ta.

Me­nu­rut sa­ya ti­dak se­la­ma­nya cua­ca yang mes­ti di­kam­bin­ghi­tam­kan. Ke­mam­pu­an ki­ta mem­pro­duk­si­lah yang me­nu­run. Hal ini di­se­bab­kan—di an­ta­ra­nya—alih fung­si la­han per­ta­ni­an dan me­nu­run­nya mi­nat ma­sya­ra­kat ki­ta ter­jun di du­nia per­ta­ni­an.

Pe­ta­ni ki­ni di­ang­gap pro­fe­si ku­rang mem­be­ri ja­min­an ma­sa de­pan. Ki­ta li­hat ba­nyak anak–anak mu­da de­sa (ter­ma­suk sa­ya) yang eng­gan ter­jun ke bi­dang per­ta­ni­an.

Pro­pet­ani

Pro­fe­si pe­ta­ni ti­dak eli­tis dan ku­rang mem­be­ri ja­min­an ke­lang­sung­an hi­dup. Me­re­ka le­bih ter­ta­rik men­ja­di bu­ruh pab­rik atau ber­ur­ba­ni­sa­si ke ko­ta. Se­dang­kan go­lo­gan anak mu­da yang me­nge­yam pen­di­dik­an per­gu­ru­an ting­gi ti­dak ber­mi­nat me­li­rik per­ta­ni­an. Pa­ra sar­ja­na itu—ter­uta­ma sar­ja­na per­ta­ni­an—le­bih ba­nyak be­ker­ja di sek­tor per­bank­an, ja­sa dan bi­dang lain­nya.

Aki­bat­nya, yang ter­si­sa ada­lah pa­ra pe­ta­ni ki­ta yang ber­pen­di­dik­an ren­dah, ku­rang ino­va­tif dan ga­gap tek­no­lo­gi. Me­re­ka pa­da umum­nya ti­dak me­mi­liki ke­mam­pu­an ma­na­je­men pas­cap­anen. Aki­bat­nya, ke­ti­ka me­re­ka pa­nen, pe­da­gang atau teng­ku­lak yang me­nen­tu­kan har­ga. Me­re­ka ter­pak­sa me­nye­tu­jui har­ga yang mung­kin di ba­wah bia­ya pro­duk­si ka­re­na tak mam­pu me­nyim­pan ha­sil pa­nen le­bih la­ma. Sing­kat­nya pe­ta­ni ki­ta be­lum mam­pu men­ja­di pe­ma­in, jus­tru me­re­ka ada­lah pi­hak yang se­ring di­per­ma­in­kan.

Alih fung­si la­han per­ta­ni­an pro­duk­tif men­ja­di ka­was­an pe­ru­mah­an, per­kan­tor­an dan pu­sat per­be­lan­ja­an ju­ga me­ru­pakn fak­tor yang ki­an me­nu­ruk­an pro­duk­ti­vi­tas per­ta­ni­an ki­ta. Ik­lim usa­ha ta­ni yang ku­rang men­du­kung meng­aki­bat­kan ke­ti­ka pa­ra kon­trak­tor dan peng­usa­ha mem­be­li ta­nah me­re­ka de­ngan har­ga ting­gi me­re­ka pun men­ju­al­nya.

Ka­lau su­dah se­de­mi­ki­an, apa yang mes­ti di­la­ku­kan pe­me­rin­tah? Bu­kan­kah pi­lih­an pro­fe­si ada­lah hak se­tiap war­ga ne­ga­ra dan men­ju­al ta­nah ada­lah ju­ga hak se­tiap pe­mi­lik ta­nah?

Pe­me­rin­tah pu­sat dan dae­rah per­lu meng­ka­ji la­gi dan mem­bu­at kon­sep per­ta­ni­an ber­jang­ka pan­jang me­nu­ju swa­sem­ba­da pa­ngan. Pe­me­rin­tah per­lu mem­be­ri­kan ik­lim usa­ha yang nya­man di bi­dang per­ta­ni­an me­la­lui ke­bi­jak­an yang pro­pet­ani.

De­ngan ik­lim usa­ha yang nya­man me­la­lui ke­bi­jak­an pro­pet­ani di­ha­rap­kan ge­ne­ra­si mu­da ber­mi­nat ter­jun ke sek­tor per­ta­ni­an, se­hing­ga sen­tra per­ta­ni­an ti­dak ha­nya di ti­tik-ti­tik ter­ten­tu, akan te­ta­pi me­nye­bar se­hing­ga pro­duk­ti­vi­tas ki­ta pun me­ning­kat.

Da­lam hal ini pe­me­rin­tah da­pat meng­gan­deng aka­de­mi­si yang ber­kom­pe­ten. De­sa se­ba­gai ujung tom­bak per­ta­ni­an mes­ti di­kem­bang­kan, in­fra­struk­tur mes­ti di­ba­ngun, dan sum­ber da­ya pe­ta­ni ki­ta ha­rus di­ting­kat­kan me­la­lu pe­la­tih­an dan kur­sus-kur­sus.

Ten­tu­nya hal ini bu­kan­lah sua­tu hal yang se­mu­dah meng­ucap­kan­nya dan mem­bu­tuh­kan ang­gar­an yang ti­dak se­di­kit. Na­mun, ti­dak ada sa­lah­nya pe­me­rin­tah meng­alo­ka­si­kan ang­gar­an yang cu­kup un­tuk per­ta­ni­an ki­ta ji­ka je­las kon­sep dan peng­awas­an­nya.

Ke­mau­an po­li­tik pe­me­rin­tah sa­ngat di­per­lu­kan da­lam hal ini. De­ngan ko­mit­men sung­guh-sung­guh bu­kan sua­tu hal yang mus­ta­hil men­ja­di­kan ki­ta kem­ba­li ber­swa­sem­ba­da pa­ngan. – Oleh : Da­ryo­no Pe­ser­ta Pe­la­tih­an Per­ta­ni­an Khu­sus Ak­ti­vis Pe­san­tren KTB BP2ER di Ca­riu, Bo­gor

 

 

 

 

 

 

 

Swasembada Pangan Tidak Tergantung Beras

            YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Swasembada pangan tidak hanya tergantung pada beras, tetapi lebih kepada bagaimana pemerintah dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.

“Pemkab Sleman menganut kebijakan swasembada pangan tidak hanya beras, tetapi kebutuhan pangan masyarakat yang lain juga harus terpenuhi,” kata Kabag Humas Setda Kabupaten Sleman Endah Sriwidiastuti di Yogyakarta, Senin (1/6).

Ia mengatakan, swasembada pangan berbeda dengan swasembada beras. Di Sleman, konsepnya sederhana. Untuk menciptakan kemakmuran daerah, harus mampu swasembada pangan. Kebutuhan pangan masyarakat tidak hanya beras, tetapi juga butuh yang lain, seperti kedelai, jagung, dan protein.

“Jika dikerucutkan, kebutuhan pangan manusia hanya dua aspek, yakni karbohidrat dan  protein. Kebutuhan pangan yang lain adalah suplemen,” katanya.

Menurut dia, kedua aspek tersebut merupakan energi untuk manusia sehingga bicara kebutuhan pangan sebenarnya bicara soal kebutuhan energi. “Berkaitan dengan itu, pengembangan ketahanan pangan di Sleman diorientasikan pada bagaimana kemampuan Pemkab Sleman mengembangkan energi yang dibutuhkan masyarakat,” katanya.

Ia mengatakan, yang dikembangkan tidak hanya komoditas padi, tetapi juga diversifikasi tanaman lain dan pengembangan berbagai sumber protein hewani. “Hasilnya, swasembada pangan masyarakat Sleman terpenuhi, bahkan surplus, baik beras maupun sumber protein hewani, seperti  telur, ayam potong, susu, ikan, dan daging hewan besar (sapi, kambing, dan domba),” katanya.

Ia mengatakan, saat ini Pemkab Sleman hanya kekurangan komoditas kedelai dan jagung sehingga harus didatangkan dari daerah lain. “Namun, kekurangan tersebut dapat dihitung konversi energinya dengan bahan pangan yang lain,” katanya.