Berjasa dalam Bidang Pembangunan dan Koperasi

 

Jakarta,

HARI KOPERASI: Presiden SBY menyematkan Satya Lencana Pembangunan kepada Gubernur NTT, Frans Lebu Raya pada peringatan Hari Koperasi ke-64, Selasa (12/7) di Istora Senayan, di Jakarta.

 

Prestasi membanggakan diraih Gubernur NTT, Frans Lebu Raya. Tekad dan komitmennya untuk menjadikan Provinsi NTT menjadi Provinsi Koperasi di Indonesia melalui “Delapar Pilar” dan “Empat Tekad Pembangunan NTT” membawanya meraih Satyalancana Pembangunan yang diserahkan langsung Presiden RI, Soesilo Bambang Yudhoyono pada puncak Peringatan Hari Koperasi Nasional ke-64 yang dihelat di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (12/7).

 

Satyalencana yang diraih Gubernur NTT ini karena dia dinilai berjasa memajukan NTT dalam bidang pembangunan dan juga Koperasi. Selain Gubernur NTT, penghargaan serupa juga diraih Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo, Wakil Gubernur Papua, Alex Hasegem, Bupati Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur, Ismail Thomas, dan Walikota Padang, Provinsi Sumatera Barat, Fauzi Bahar.

 

Tak hanya Gubernur NTT, Frans Lebu Raya yang mendapat penghargaan dari Presiden. Salah satu pelaku koperasi di NTT, yakni Aloysius, pengurus Koperasi Kredit Union Remaja Hokeng Flores-NTT juga memperoleh penghargaan Koperasi Berprestasi yang diserahkan oleh Menteri Koperasi dan UKM, Syariffudin Hasan. Pemberian Penghargaan Koperasi Berprestasi ini diserahkan kepada 10 penerima, selain Aloysius, ada juga Ketut A. Putra (Koperasi Warga Semen Gresik), Sunardjono (Koperasi Karyawan Nusa Tiga Medan, Sumut), Lukman Hakim (Koperasi Karyawan Tambang Batubara Palembang, Sumsel), Awaluddin (Koperasi Karyawan Angkasa Pura Banjarbaru, Kalbar), Satyo Utomo (Koperasi Pegawai Maritim, DKI jakarta), I Made Sudiana (KUD Surya Mertha Jembrana, Bali), Yuni Istanto (Primkopeg UPN Veteran, DIY), Hermani Adi (KUD Ayeming Urip, Jatim), dan Tendy Kusmayadi (KOperasi Peternak Garut Selatan, Jabar).

 

Dalam acara ini, turut diserahkan pula Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari sejumlah perbankan kepada para pelaku usaha kecil, antara lain dari Dirut BRI kepada Rozikin (Jakarta Pusat) dana senilai Rp 10 juta untuk usaha tempe debitur KUR Mikro, dari Dirut Bank Mandiri kepada Arnold Hutarabat (Jaksel) dana senilai Rp 10 juta untuk usaha warung makan, Dirut BNI kepada Yusuf Ramli dana senilai Rp 2 miliar untuk enam kelompok usaha perikanan, Dirut BTN kepada Setia Hadi Purnomo (Depok, Jabar) dana senilai Rp 95 juta untuk budidaya jamur merang. Selanjutnya dari Dirut Bank Syariah Mandiri Niken Sptani (Koperasi Jasa Keuangan Syariah Ibu Mandiri Tangerang) senilai Rp 500 juta untuk jasa simpan pinjam, Dirut UKMK Bukopin senilai Rp 102,6 miliar untuk 794 debitur kepada Bidan Ismiani (Usaha Klinik Bersalin), Dirut Bank Jatim kepada Muhammad Asmuidari (Tangerang Selatan) senilai Rp 300 juta untuk waralaba minuman java, Dirut Bank Jabar kepada Hj. Nani Rosna (Koperasi Aneka Usaha Perempuan Kencana Bandung) dana senilai Rp 200 juta, Dirut Bank Jateng kepada Ysrun (BMT Taruna Sejahtera Semarang) dana senilai Rp 1 miliar untuk usaha simpan pinjam bagi 1413 anggotanya, dan dari Direktur Lembaga Pengelola Dana Bergulir, Kemenkop dan UKM kepada Ngurah Baginda dana sebesar Rp 900 juta untuk usaha waralaba burger. Penghargaan lain yang diberikan dari Menkop dan UKM adalah Penghargaan Bhakti Koperasi kepada Mokh. Muslim Abdul Syukur (Walikota Sukabumi, Jabar), Nurdin Abdullah (Bupati Bantaeng, Sulsel), Zulher, MS (Sekda Kabupaten Kampar, Riau), Jend TNI (purn) George Toisutta, dan Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, M.Sc (Rektor ITB).

 

Usai penyerahan Satyalencana, dalam sambutannya Presiden SBY mengajak para penggiat koperasi di seluruh pelosok tanah air untuk meningkatkan kerja sama, semangat kesetiakawanan, kekeluargaan dan kebersamaan sebagai jati diri gerakan koperasi dan juga jati diri bangsa kita. “Saya mengajak semuanya untuk menerapkan nilai-nilai yang diajarkan oleh Bung Hatta, yaitu persaudaraan, gotong royong, dan kemandirian,” kata Presiden.

Dalam kesempatan itu, SBY juga mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk melakukan revitalisasi dan kebangkitan koperasi yang berjangka lima tahun, dimulai pada tahun 2012. “Dengan sasaran yang jelas, mulai kita lakukan revitalisasi dan kebangkitan gerakan koperasi di seluruh Indonesia. Pada tahun 2012-2017 kita ingin koperasi ini makin berkembang di seluruh wilayah tanah air,” kata SBY kemarin.

Menurut SBY, revitalisasi koperasi ini akan mencakup semua bidang, baik manajemen, permodalan, pengembangan ekonomi kreatif, usaha kecil dan menengah. Dengan demikian Indonesia akan memiliki ekonomi kerakyatan sebagai sabuk pengaman manakala ekonomi dunia sedang tidak bersahabat.

“Kita sendirilah yang harus menyelamatkan perekonomian kita, bangsa Indonesia sendirilah yang harus bisa menumbuhkan ekonomi nasional kita, sambil meningkatkan kesejahteraan rakyat lebih merata lagi. Sanggupkah saudara?” seru Presiden SBY kepada hadirin yang dibalas dengan teriakan kata, “Sanggup!”

 

Kepada Menkop dan UKM, Presiden berpesan agar meningkatkan pembinaan perkoperasian di tanah air dan melanjutkan pemberdayaan kaum perempuan dan generasi muda.

Sebelumnya, Menkop dan UKM, Syariefuddin Hasan dalam sambutannya mengatakan, tema peringatan koperasi kali ini menggambarkan semangat dan misi gerakan koperasi yang berkesinambungan agar tumbuh dan berkembang. “Dimulai saat tokoh-tokoh koperasi menyelenggarakan kongres pertama di Tasikmalaya kemudian diimplementasikan oleh Bung Hatta dan dikembangkan serta diperkuat oleh Bapak Susilo Bambang Yudhoyono sehingga koperasi Indonesia akan semakin bangkit dan semakin tumbuh dan semakin kuat,” jelas Hasan.

Untuk diketahui, Presiden SBY dalam acara Hari Koperasi Nasional ke-64 kemarin hadir didampingi Ibu Negara, Hj. Ani Bambang Yudhoyono. Hadir juga Menko Perekonomian, Hatta Rajasa, Menko Kesra, Agung Laksono, Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu, dan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya saat memaparkan program percepatan pembangunan NTT dihadapan Presiden RI di Istana Negara, awal Februari 2011 lalu menyatakan kalau NTT sudah bosan miskin. Karena itu, pihaknya berupaya melakukan beberapa terobosan dengan program kerja “Delapan Pilar” dan “Empat Tekad”. Salah satu tekad dari empat tekad itu adalah menjadikan NTT sebagai provinsi koperasi.

Menurut Frans. melalui gerakkan koperasi, dirinya yakin dan optimistis bahwa upaya mengentaskan kemiskinan akan berhasil. “Dengan koperasi, kita bisa meningkatkan perekonomian rakyat,” jelasnya.

 

Sebagai upaya mewujudkan tekadnya itu, Gubernur terus melakukan motivasi dan dorongan kepada elemen masyarakat untuk mengembangkan koperasi. Untuk diketahui, berdasar data Pemprov NTT yang disampaikan dalam laporan keterangan pertanggungjawaban (LKPJ) Gubernur NTT, Selasa (12/7) kemarin, jumlah koperasi di NTT hingga saat ini mencapai 1.917 unit. Koperasi aktif sebanyak 1.599 unit dan koperasi tidak aktif sebanyak 318 unit. Bila dibanding tahun sebelumnya, jumlah koperasi aktif meningkat sebesar 200 unit sedangkan koperasi tidak aktif menurun 21 unit.

Disebutkan, sampai saat ini koperasi telah memberikan pelayanan kepada 496.883 orang atau meningkat 26.847 orang anggota pada tahun 2009 yang tersebar di 21 kabupaten/kota. Dari jumlah ini, koperasi dengan modal sendiri sebesar Rp486.363.293.452 atau meningkat sebesar Rp 157.640.193.452 dari tahun sebelumnya. Sedangkan modal luar sebesar Rp 739.584.134.108 (47,96 persen) atau meningkat dari tahun sebelumnya sebesar Rp 418.383.554.108. Sisa hasil usaha (SHU) pada tahun 2010 sebesar Rp 101.247.647.300 atau meningkat dari tahun sebelumnya sebesar Rp 48.462.027.300 atau 91,81 persen. Sebelumnya, tepatnya, tanggal 28 Juli 2010, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya menerima Pataka Paramadhana Utama dari Menteri Koperasi dan UMKM karena NTT berhasil mengembangkan koperasi.

 

SUMBER : http://www.rotendaokab.go.id/modules.php?name=BeritaNasional&op=detail_berita_nasional&id=151