Sejarah peradaban manusia dipenuhi dengan berbagai penemuan-penemuan besar dengan tokoh-tokoh jenius di baliknya. Kalau berbicara tentang penemuan manusia, biasanya kita akan langsung teringat dengan Albert Einstein, seorang ilmuwan fisika teoretis yang mengemukakan teori relativitas dan disebut-sebut sebagai ilmuwan terbesar abad ke-20.

 

Selain Einstein, biasanya kita akan teringat dengan salah satu penemu terbesar sepanjang sejarah yang berasal dari Amerika, Thomas Alva Edison. Dia dinilai berhasil mengubah wajah peradaban manusia dengan berbagai penemuan yang dicapainya. Sampai akhir hayatnya Edison berhasil mempatenkan 1.093 penemuan, termasuk bola lampu, gramophone dan kamera film yang sangat terkenal.

 

Selain kemudahan yang dirasakan manusia, ternyata berbagai penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi itu juga melahirkan kesengsaraan dan kehancuran. Ini terjadi ketika kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dipergunakan oleh manusia tidak bermoral. Lahirlah bom atom di Jepang. Bom, tank, pesawat tempur yang menghancurkan rakyat Palestina. Maraknya pornografi di internet.

 

Itulah yang terjadi. Ketika penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa dibarengi dengan kemuliaan akhlak dan budi pekerti. Karena itu, pencarian yang dilakukan Nabi Ibrahim hingga akhirnya menemukan hakikat Tuhan pencipta dan pemelihara alam semesta sesungguhnya adalah penemuan yang sangat penting. Karena manusia tidak akan sewenang-wenang jika penemuan Nabi Ibrahim, berupa keimanan kepada Allah itu menghujam di hatinya.

 

Seorang ulama terkemuka, Abbas Muhammad Aqqad, pernah menulis,” Penemuan yang dikaitkan dengan Nabi Ibrahim a.s. merupakan penemuan manusia yang terbesar dan yang tak dapat diabaikan para ilmuwan atau sejarawan. Penemuan Ibrahim tidak dapat dibandingkan dengan penemuan roda, api, listrik, atau rahasia-rahasia atom betapapun besarnya pengaruh penemuan-penemuan tersebut,… yang itu dikuasai manusia, sedangkan penemuan Ibrahim menguasai jiwa dan raga manusia.”

 

Penemuan Ibrahim, lanjut Aqqad, menjadikan manusia yang tadinya tunduk pada alam, menjadi mampu menguasai alam, serta menilai baik buruknya, penemuan yang itu dapat menjadikannya berlaku sewenang-wenang, tapi kesewenang-wenangan ini tak mungkin dilakukannya selama penemuan Ibrahim as. itu tetap menghiasi jiwanya… penemuan tersebut berkaitan dengan apa yang diketahui dan tak diketahuinya, berkaitan dengan kedudukannya sebagai makhluk dan hubungan makhluk ini dengan Tuhan, alam raya dan makhluk-makhluk sesamanya…”